Tujuan Sekolah Kedinasan


Sekolah kedinasan? Sebenarnya saya agak bingung perbedaan sekolah kedinasan dan universitas lain. Ok begini saya awali kebingungan saya.

Saya adalah salah satu mahasiswa di sebuah sekolah kedinasan. Sekarang saya menempuh semester 3. Pada semester ini saya mulai berpikir,  apa sih tujuan sekolah kedinasan.  Banyak dari teman saya yang bilang sekolah di sini itu lulus langsung kerja. Tapi apakah itu tujuan pemerintah mendirikan sekolah kedinasan?
Saya rasa bukan kawan. Kalau Cuma mencari orang yang terdidik dan  dengan model ikatan kerja seperti ini, pemerintah bisa bekerja sama dengan pihak universitas lain untuk menyediakan  tenaga terdidik yang memenuhi kebutuhan di setiap kementrian di pemerintahan.

Sekolah gratis, buku di pinjami, dapat gaji bulanan pula. Apa sih maunya pemerintah memberikan fasilitas itu semua??

Saya berpikir, tanpa fasilitas itu semua asal ada ikatan kerja, pasti semua orang akan berebut masuk situ. Lalu kenapa di beri fasilitas itu?

Jawaban yang saya dapatkan adalah pemerintah menginginkan kita jadi jiwa jiwa yang mandiri, jiwa jiwa yang  yang suka membantu(lohh). Iya dengan uang yang kita terima dan uang kiriman dari orang tua pasti hasilnya lebih dari cukup. Uraian saya kiriman dari orang tua 1 juta + gaji 500 ribu = 1,5 juta. Biaya hidup cukup 600 ribu perbulan. So buat apa sisa 900ribu?

Stelah saya berpikir panjang, duit 900 itu seharusnya buat menghidupkan perekonomian sekitar. Mungkin pemerintah ingin menguji kita dengan memberi uang sebanyak itu. Apakah kita mau jadi seseorang yang ingin membantu atau kita jadi orang yang serakah, korup, dan culas. Membantu tidak dalam bentuk uang langsung, tapi bisa dalam bentuk kita membeli makanan pada mereka. Gaya anak muda sekarang dikit dikit ke mall. Seberapa besarnya keuntungan yang didapat oleh pengusaha mall, tidak serta merta manaikan tingkat pendapatan  pegawainya.

Yang kedua, kami di didik langsung oleh dosen dosen dari kementrian yang membawahi sekolah dinas kami. So apa tujuan kenapa harus mereka yang jadi dosen kami? Selidik demi selidik saya mendapatkan jawaban bahwa kita nanti akan bekerja di kementrian yang sama dengan mereka, sehingga  kemungkinan besar kami akan mengalami keadaan yang sama dengan mereka, artinya sauasana dan kondisi kantor akan sama. Banyak dari dosen kami bercerita tentang pengalaman dirinya saat dituduh koruptor, saat menangkap koruptor, cara mengatasi atasan yang rewel,dll.  Selain menimba ilmu, kami juga menimba pengalaman manis ataupun pahit dari mereka supaya kedepanya kami  bisa lebih baik dari mereka.

Ketiga, masalah nilai. Wah kalau yang namanya IP itu adalah benda sakral, hanya Tuhan dan ortu saja yang boleh tahu tentang IP hahaha. Tapi saya tidak beranggapan seperti itu. Bagi saya nilai itu prioritas kedua setelah ilmu yang saya dapat. Banyak dari teman teman saya punya IP bagus, tapi dari segi pergaulan mereka itu apatis. Coba bayangkan ketika ada seorang yang cerdas dalam suatu kelompok belajar tapi dia apatis, dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan benar dan mudah dipahami oleh lawan bicara. Ada juga yang cerdas tapi tidak mau berbagi ilmu. Semua karna persaingan IP, karena konon katanya IP menentukan penempatan kerja. Lebih baik IP saya 3 tapi saya orangnya supel Daripada saya punya ip 3,9 tapi saya tidak bisa bisa bergaul bahkan tidak pernah bisa membaca keadaan da situasi. Hidup itu tidak hanya berupa ilmu exact yang kita dapat dari sekolah.

Keempat, kita di tempatkan pada suatu wilayah yang jauh dari universitas lain. Menurut saya tujuanya adalah supaya kita bergaul dengan sesama orang yang memiliki minat yang sama. Supaya kita bisa berdiskusi tentang keadaan sekarang di departemen kita masing masing.

 Mungkin hari ini cukup 4 itu saja yang sempat saya tulis,  semoga kedepanya saya dapat menemukan sesuatu yang lebih atau ekspektasi yang di inginkan pemerintah pada kita.

Category:

0 komentar:

Posting Komentar